ASPEK KELESTARIAN

 

Rencana Pengelolaan Hutan Lestari Terpadu (Integrated Sustainable Forest Management Plan)

PT. Finnantara Intiga merupakan salah satu mitra dan pemasok bahan baku industri pulp dan kertas dalam kelompok Asia Pulp & Paper (APP). Asia Pulp & Paper sebagai salah satu produsen pulp dan kertas terbesar di Indonesia telah menyatakan komitmennya untuk melaksanakan Road Map menuju kelestarian atau Sustainability Roadmap. Dengan demikian, sebagai salah satu pemasok bahan baku ke APP, PT. Finnantara Intiga mempunyai komitmen untuk menghasilkan produk ramah lingkungan dan berkelanjutan, dengan berpedoman pada peta jalan kelestarian (sustainability roadmap) yang telah ditetapkan.

Salah satu bentuk komitmen PT. Finnantara Intiga adalah melakukan penilaian/ identifikasi hutan yang memiliki nilai konservasi tinggi (NKT), identifikasi areal dengan simpanan karbon tinggi (Stok Karbon Tinggi/ SKT), identifikasi konflik sosial, dan studi growth and yield. Selama studi mengenai HCV dan HCS tersebut, PT. Finnantara Intiga tidak melakukan penebangan hutan alam (moratorium penebangan hutan alam sejak 1 Februari 2013. Keseluruhan proses tersebut ditambah studi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) yang merupakan instrumen pencegahan terjadikan kerusakan lingkungan yang dilaksanakan saat permohonan untuk mendapatkan IUPHHK-HT, merupakan tahapan penting dalam implementasi pengelolaan hutan berkelanjutan yang mengintegrasikan pertimbangan ekologi, sosial dan ekonomi dalam kegiatan operasionalnya.

Untuk mempermudah implemantasinya, perusahaan menyusun sebuah dokumen perencanaan pengelolaan hutan lestari yang terintegrasi (Integrated Sustainable Forest Management Plan) yang memadukan berbagai hasil kajian dalam sebuah dokumen, sebagai acuan dalam kegiatan pengelolaan hutan lestari.

 

KELOLA PRODUKSI

Kelola produksi berkomitmen menghasilkan dan menyediakan bahan baku kayu secara berkelanjutan dengan menerapkan prinsip-prinsip pengelolaan hutan lestari. Rencana kelola produksi berdasarkan rencana RKT tahunan PT. Finnantara Intiga dengan periode waktu pada bulan Januari - Desember. Berikut disajikan rencana kelola aspek produksi untuk tahun 2018.

No

Parameter

Rencana

1

Persiapan Lahan

8.180,00  Ha

2

Pengadaan Bibit :

-       Tanaman Pokok

-       Tanaman Kehidupan

 

9.045.738   btg

711.173   btg

3

Tanam (Ha)

-  Tanaman Pokok

-  Tanaman Kehidupan

 

6.786 Ha

1.357 Ha

4

Pemeliharaan :

Penyulaman

Pendangiran

 

1.628 Ha

8.143 Ha

5

Panen  :

Luas (Ha)

Volume (M3)

 

7.175  Ha

541,078 m3

6

Survey Permanen Sample Plot (PSP)

 

Jumlah Plot

63

Luas (ha)

116,15

7

Survey Pre Harvesting Inventory (PHI)

 

Jumlah Plot

3.652

Luas (ha)

4.907

 

A. Perencanaan

Sebagai dasar kegiatan operasional, PT. FI telah menyusun Rencana Kerja Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Tanaman (RKUPHHK-HT), yang merupakan rencana pengusahaan jangka panjang.

Secara dinamis, dokumen RKUPHHK-HTI menjadi acuan dalam penyusunan Rencana Kerja Tahunan (RKT) perusahaan. RKT selanjutnya menjadi dasar legal di dalam melaksanakan seluruh kegiatan operasional hutan tanaman, khususnya kegiatan penebangan (harvesting) dan penanaman (plantation).

B. Tata Ruang Konsesi

Tata ruang di HTI diharapkan dapat memenuhi keseimbangan ekosistem hutan dan dapat mengakomodir kepentingan sosial ekonomi masyarakat sekitar. Dokumen RKUPHHK-HTI ini terdapat perubahan tata ruang hutan tanaman. Pada RKUPHHK-HTI ini terdapat perubahan tata ruang hutan tanaman. Perubahan tata ruang mengacu pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P.12/Menlhk-II/2015 tanggal 24 Maret 2015 jo. P.17/Menlhk/Setjen/Kum.1/2/2017, tentang Pembangunan Hutan Tanaman Industri.

C. Pembibitan

Pengadaan bibit dilakukan untuk menjamin kebutuhan bibit dalam rangka pembangunan hutan tanaman sesuai rencana pengadaannya. Bibit yang disediakan merupakan bibit berkualitas tinggi dalam jumlah yang memadai dan tata waktu yang tepat.
Pengadaan bibit dilakukan di persemaian (nursery) yang berada di dalam areal kerja perusahaan. Persemaian ini di dukung dengan pengadaan terminal-terminal bibit masing-masing blok penanaman. Jumlah kebutuhan bibit dipengaruhi oleh jarak tanam, luas areal yang akan ditanami.
Dalam memproduksi bibit perusahaan tidak menggunakan benih hasil rekayasa genetik (Genetic Modification Organism).

D. Penyiapan Lahan

Kegiatan penyiapan lahan dimaksudkan untuk mempersiapkan kondisi areal siap tanam sesudah areal dibuka (land clearing dan harvesting). Kegiatan awal penyiapan lahan berupa pembersihan lahan dari pohon, semak belukar, gulma, dan vegetasi lainnya yang tumbuh di areal tanaman. Kegiatan penyiapan lahan HTI PT. FI menerapkan prinsip Penyiapan Lahan Tanpa Bakar (PLTB)

E. Penanaman

Kegiatan penanaman di areal HTI PT. FI dilakukan setelah kegiatan penyiapan lahan selesai dan dinilai layak untuk diteruskan dengan kegiatan penanaman. Penanaman dimungkinkan dilakukan sepanjang tahun karena kondisi curah hujan yang sesuai. Pelaksanaan kegiatan penanaman dimonitor melalui kegiatan Plantation Process Asessment (PPA) agar kegiatan berjalan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan oleh perusahaan.
Selain itu untuk melihat keberhasilan tanaman dilakukan pula Plantation Assessment oleh Plantation Asessment Team (PAT) yang menilai standar stocking, spacing, dan weed free. Kegiatan ini dilakukan pada saat tanaman berumur 3, 6 dan 12 bulan.
Penanaman tanaman pokok dilakukan dengan jarak tanam sekitar 3 x 2 m untuk jenis Akasia pada lokasi yang telah ditetapkan dalam RKT. Untuk keperluan sistem informasi, maka petak-petak yang telah ditanami segera diukur oleh bagian perencanaan dan diinput dalam data base sebagai bagian FMIS.

F. Pemeliharaan Tanaman

Kegiatan pemeliharaan tanaman dilakukan, setelah kegiatan penanaman dilakukan dengan mengacu pada Standard Operating Procedure yang meliputi kegiatan pemupukan, penyulaman, pengendalian gulma (weeding) dan pemangkasan cabang (singling). Jadwal pelaksanaan pemeliharaan tanaman (luas dan waktunya) mengikuti jadwal penanaman dan jadwal teknis silvikultur HTI.

G. Monitoring Kelola Produksi tahun 2017

Upaya monitoring kegiatan perusahaan dilakukan dengan membuat pelaporan maupun dokumentasi agar apa yang dilakukan dapat terekam dengan baik. Sehingga kineja perusahaan menjadi terkontrol dengan baik pula. Adapun monitoring dan evaluasi yang dilakukan pada aspek produksi tahun 2017 sebagai berikut.

Monitoring dan evaluasi Aspek produksi tahun 2017 disajikan pada Tabel berikut :

No

Parameter

Rencana (Ha)

Realisasi (Ha)

1

Persiapan Lahan (Ha)

Sanggau

Sintang

 

3.593

378

 

494

40

2

Pengadaan Bibit :

-       Tanaman Pokok

-       Tanaman Kehidupan

 

5.040.139 btg

252.007 btg

 

590.291 btg

-

3

Tanam (Ha)

3.970,51

443

4

Pemeliharaan :

Penyulaman

Penjarangan

Pemangkasan

 

795

3.781,01

3781.01

 

97

442,93

442,93

5

Panen  :

Luas (Ha)

Volume (M3)

 

3.779,83

175.915

 

696

61.089

6

Tata Batas Konsesi (m)

-

-

7

Survey Permanen Sample Plot (PSP)

 

 

 

Jumlah Plot

60

60

 

Luas (ha)

111.70

111.70

6

Survey Pre Harvesting Inventory (PHI)

 

 

 

Jumlah Plot

2.847

2.307

 

Luas (ha)

3.405

2.606

 

KELOLA LINGKUNGAN

Perhatian terhadap aspek lingkungan secara umum berangkat dari kesadaran perusahaan bahwa kegiatan pembangunan hutan tanaman menimbulkan suatu perubahan rona lingkungan awal dari suatu areal dan menimbulkan dampak penting (potensial) baik yang bersifat positif maupun negatif. Terhadap dampak negatif dilakukan pemantauan dan pengelolaan agar dapat ditanggulangi dan dikendalikan semaksimal mungkin. Sementara itu dampak positifnya harus ditingkatkan. Adanya dampak penting tersebut pada tahap awal diketahui dari hasil kajian analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) yang telah disusun oleh PT. Finnantara Intiga.

I. Bentuk Pengelolaan Lingkungan

Kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan di HTI PT.  Finnantara Intiga (PT. FI) dilaksanakan pada 3 kelompok areal, yaitu:

1. Areal Kawasan Lindung

Kawasan lindung yang terdapat di areal perusahaan dibagi dalam beberapa fungsi, yaitu Kawasan badan dan Sempadan Sungai (KSS), Kawasan Perlindungan Satwa Liar (KPSL) dan Fungsi Ekosistem Gambut. Kegiatan pengelolaan dan pemantauan kawasan lindung yang telah dilakukan adalah penandaan batas, pemeliharaan batas,  pemasangan papan peringatan, pengayaan atau penanaman untuk kegiatan rehabilitasi, inventarisasi dan identifikasi flora dan fauna, sosialisasi dan edukasi perlindungan hutan serta kegiatan patroli pengamanan kawasan lindung.

Secara garis besar flora atau vegetasi alam di areal IUPHHK-HT PT. FI mencerminkan flora khas daratan Kalimantan, baik vegetasi yang berada di lantai hutan maupun vegetasi  pohon dengan diameter dan tinggi yang cukup besar.

Penentuan jenis-jenis pohon dilindungi didasarkan pada beberapa kepentingan seperti keberadaan jenis pohon, status pohon tersebut dan beberapa kriteria lainnya termasuk pohon penghasil nir kayu, sebagaimana Keputusan Menteri Kehutanan & Perkebunan No.693/Kpts-II/1998. Jenis-jenis vegetasi dilindungi yang teridentifikasi adalah Keruing, Meranti, Ramin, Jelutung dan lain-lain

Tabel Spesies Flora yang Ditemukan pada Area HCV 1.3 PT. Finnantara Intiga

 NO  NAMA ILMIAH  NAMA LOKAL/INDONESIA STATUS
IUCN CITES PERATURAN PERUNDANGAN
1 Combretocarpus rotundatus Perepat VU - -
2 Caryota no Aping - -

PP No:7/1999

3 Dipterocarpus cf. fusiformis Keruing CR -

PP No:7/1999

4 Dipterocarpus cf. sublamelatus Keruing EN -

PP No:7/1999

5 Dryobalanops cf. fusca Emang CR -

-

6 Hope mengerawan Emang

CR

-

-

7 Shorea cf. johorensis Majau

CR

-

-

8 Shorea lamellata Meranti Putih

CR

-

-

9 Shorea macrophylla Tengkawang - -

PP No:7/1999

10 Shorea seminis Terinak CR -

PP No:7/1999

11 Shorea splendida Tengkawang Rambai - -

PP No:7/1999

12 Shorea stenoptera Tengkawang Besar - -

PP No:7/1999

13 Shorea teysmanniana Meranti EN -

-

14 Shorea uliginosa Meranti

VU

-

-

15 Vatica venulosa Resak Air

VU

-

-

16 Eusideroxylon zwageri Ulin/Belian

VU

-

PP No:7/1999

17 Durio kujensis Pekawai

VU

-

-

18 Durio zibenthinus Durian

-

-

PP No:7/1999

19 Nepenthes ampullaria Encangkok - -

PP No:7/1999

20 Nepenthes bicalcarata Entuyud VU -

PP No:7/1999

21 Coelogyne pandurata Anggrek Hitam - -

PP No:7/1999

22 Gonystylus bancanus Ramin - App II

PP No:7/1999

23 Dyera spp. Jelatung - -

PP No:7/1999

 

Di areal  kerja  PT. FI  ditemukan  beberapa  jenis  satwa  liar,  baik  dari  jenis  reptil, burung dan mamalia. Berikut Daftar satwa yang dilindungi yang berada di areal Kerja PT. FI  berdasarkan status perlindungan jenis fauna (PP 7/1999, CITES dan Redlist IUCN)

1. Daftar Jenis Mammalia

NO

NAMA ILMIAH

NAMA INDONESIA

STATUS

IUCN

CITES

PERATURAN PERUNDANGAN

1

Tupaia minor

Tupai kecil

LC

App II

-

2

Nycticebus menagensis

Kukang

VU

App I

PP No:7/1999

3

Prionailurus bengalensis

Kucing Kuwuk

LC

App II

PP No:7/1999

4

Hylobates agilis albibarbis

Owa-owa

EN

App II

PP No:7/1999

5

Tarsius bancanus

Krabuku Ingkat

VU

App II

PP No:7/1999

6

Tupaia montana

Tupai gunung

LC

App II

-

7

Dendrogale melanura

Tupai ekor kecil

DD

App II

-

8

Tupaia dorsalis

Tupai bergaris

DD

App II

-

9

Mydaus javanensis

Teledu sigung

LC

-

PP No:7/1999

10

Aonyx cinerea

Sero Ambrang

VU

App II

-

11

Helarctos malayanus

Beruang Madu

VU

App I

PP No:7/1999

12

Manis javanica

Trenggiling

EN

App II

PP No:7/1999

Keterangan: CR= terancam punah; EN=terancam; VU=rentan; I: appendix I; II: appendix II; tanda (√) = dilindungi; RI: PP RI no.07/ 1999

 

2. Daftar Jenis Aves (Burung)

 

NO

 

NAMA ILMIAH

 

NAMA INDONESIA

STATUS

IUCN

CITES

PERATURAN PERUNDANGAN

1

Egretta garzetta

Kuntul kecil

LC

 -

PP No:7/1999

2

Pernis ptilorhynchus

Sikepmadu Asia

LC

App II

PP No:7/1999

3

Haliastur indus

Elang Bondol

LC

App II

PP No:7/1999

4

Spilornis cheela

Elang Ular Bedo

LC

App II

PP No:7/1999

5

Ictinaetus malayensis

Elang Hitam

LC

App II

PP No:7/1999

6

Spizaetus cirrhatus

Elang Brontok

LC

App II

PP No:7/1999

7

Microhierax fringillarius

Alapalap Capung

LC

App II

PP No:7/1999

8

Ducula pickeringii

Pergam Kelabu

VU

 -

-

9

Loriculus galgulus

Serindit Melayu

LC

App II

-

10

Psittacula alexandri

Betet biasa

LC

App II

-

11

Psittacula longicauda

Betet ekor panjang

NT

App II

-

12

Otus rufescens

Celepuk merah

NT

App II

-

13

Bubo sumatranus

Beluk Jempuk

LC

App II

-

14

Ketupa ketupu

Beluk Ketupa

LC

App II

-

15

Alcedo meninting

Raja Udang Meninting

LC

App II

PP No:7/1999

16

Ceyx erithaca

Udang Api

LC

App II

PP No:7/1999

17

Pelargopsis capensis

Pekaka Emas

LC

App II

PP No:7/1999

18

Halcyon coromanda

Cekakak Merah

LC

App II

PP No:7/1999

19

Rhinoplax vigil

Rangkong Gading

NT

App I

PP No:7/1999

20

Pitta granatina

Paok Delima

NT

App I

PP No:7/1999

21

Pitta sordida

Paok Hijau

LC

App I

PP No:7/1999

22

Setornis criniger

Empuloh paroh kait

VU

App I

-

23

Rhipidura javanica

Kipasan Belang

LC

App I

PP No:7/1999

24

Anthreptes simplex

Burung Madu Polos

LC

App I

PP No:7/1999

25

Anthreptes malacensis

Burung Madu Kelapa

LC

App I

PP No:7/1999

26

Anthreptes rhodolaema

Burung Madu leher merah

LC

App I

PP No:7/1999

27

Anthreptes  singalensis

Burung Madu Belukar

LC

App I

PP No:7/1999

28

Leptocoma sperata

Burung Madu Pengantin

LC

App I

PP No:7/1999

29

Cinnyris jugularis

Burung Madu Sriganti

LC

App I

PP No:7/1999

30

Aethopyga siparaja

Burung Madu Sepah Raja

LC

App I

PP No:7/1999

31

Arachnothera longirostra

Pijantung Kecil

LC

App I

PP No:7/1999

32

Arachnothera flavigaster

Pijantung Tasmak

LC

App I

PP No:7/1999

33

Gracula religiosa

Teong Emas

LC

App II

PP No:7/1999

 

3. Daftar Jenis Satwa Liar Herpetofauna

 

NO

 

NAMA ILMIAH

 

ENGLISH NAME

STATUS

IUCN

CITES

PERATURAN PERUNDANGAN

1

Naja sumatrana

Equatorial Spitting Cobra

LC

App II

-

2

Varanus salvator

Common Monitor Lizard

LC

App II

-

3

Heosemys grandis

Giant Asian Pond Turtle

VU

App II

-

4

Amyda cartilaginea

Asiatic Soft-shelled Turtle

VU

App II

-

 

Penilaian Nilai Konservasi Tinggi (NKT)

Dalam rangka mendukung Kebijakan Konservasi Hutan (FCP) yang dicanangkan oleh APP, PT. FI berkomitmen untuk menjaga area dengan nilai keanekaragaman hayati yang juga dikenal sebagai High Conservation Value (HCV) – dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan Nilai Konservasi Tinggi (NKT). Setelah melakukan serangkaian proses kegiatan penilaian NKT, area dalam konsesi yang diidentifikasi mengandung NKT akan dikelola untuk memastikan bahwa nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dipertahankan atau ditingkatkan.

Penilaian NKT di areal PT. FI sudah dilakukan pada tahun 2014 oleh APCS. Dari hasil identifikasi di lapangan dapat diketahui nilai-nilai konservasi yang terdapat atau tidak ada pada kawasan-kawasan hutan yang ada di dalam unit manajemen yaitu:
Hasil Penilaian NKT PT. FI :

 

Pengelolaan Kawasan Lindung/Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi

Berdasarkan komitmen perusahaan terhadap lingkungan, terdapat beberapa kegiatan pengelolaan dan pemantauan Kawasan Lindung yang sudah dilakukan antaranya yaitu :

  1. Pemeliharaan batas areal kawasan lindung
  2. Pemasangan papan nama jenis areal kawasan lindung, papan nama larangan/himbauan.
  3. Perlindungan/patroli/monitoring areal kawasan lindung secara rutin.
  4. Penyuluhan tentang perlindungan hutan secara periodik bagi masyarakat sekitar areal konsesi.
  5. Melakukan koordinasi tentang pengelolaan kawasan lindung

 

2. Areal Tidak Efektif Untuk Produksi

Merupakan kawasan produksi yang dialokasikan sebagai areal tanaman kehidupan dan sarana prasarana pendukung.  Pengelolaan dan pemantauan yang dilakukan berupa :

  • Penandaan batas untuk areal tanaman kehidupan setempat yang terintegrasi dengan pelaksanaan tata batas.
  • Pemberian bantuan bibit tanaman kehidupan.
  • Pemasangan papan nama.
  • Perawatan kanal secara tertutup untuk mengurangi terlepasnya bahan organik
  • Kegiatan perawatan jalan untuk sarana transportasi
  • Pemantauan kualitas air sungai
  • Patroli pengamanan secara rutin

 

3. Areal Efektif Untuk Produksi

Merupakan kawasan produksi yang dialokasikan sebagai areal tanaman pokok. Pada areal efektif untuk produksi dilakukan kegiatan pengelolaan dan pemantauan seperti pemberian pupuk sesuai rekomendasi, penebangan sesuai dengan blok RKT berjalan, persiapan lahan dengan tidak membakar sisa tebangan, pemasangan pal untuk batas petak, pemantauan sifat fisik-kimia tanah, monitoring hama-penyakit tanaman, pengamatan/pengukuran PSP, dan pengendalian kebakaran lahan.

Secara umum sasaran/kegiatan yang telah dikelola dan dipantau pada masing-masing areal dapat dilihat pada Tabel berikut :

No.

Kawasan

Sasaran/Kegiatan

Pengelolaan

Pemantauan

1.

Kawasan Lindung

Pihak perusahaan melakukan kegiatan patroli rutin di aral kawasan lindung, melakukan kegiatan rehabilitasi areal kawasan lindung yang rusak, melakukan kegiatan tata batas kawasan lindung, dan penyuluhan kepada masyarakat

Pemantauan vegetasi dan satwa liar, dan Rapid Assessment kawasan Konservasi di PT. FI.

2.

Areal Tidak Efektif Untuk Produksi

Penandaan batas untuk areal tanaman kehidupan setempat yang terintegrasi dengan pelaksanaan tata batas, Pemberian bantuan bibit tanaman kehidupan, Pemasangan papan nama.

Melakukan kegiatan pemantauan debit sungai, kualitas air sungai.

3.

Areal Efektif Untuk Produksi

Melakukan kegiatan penebangan dengan metode micro planning, persiapan lahan tanpa bakar, melakukan kegiatan pemupukan sesuai dengan standard yang telah di tetapkan, serta melakukan penanaman bekas jalan sarad, TPN, dan TPK.

Melakukan kegiatan pematauan debit sungai, perubahan kimia tanah,  pemantauan perubahan sifat fisik tanah, kondisi cuaca, kualitas udara dan kebisingan

 

Fire Management

Kebakaran lahan dan hutan merupakan salah satu penyebab kerusakan hutan dan lahan serta ekosistemnya yang memiliki dampak negatif yang sangat besar.  Dampak negatif ini akan menyebabkan kerugian yang sangat besar bagi kelangsungan perusahaan dan lingkungannya.

Dalam rangka mencegah terjadinya kebakaran lahan dan hutan, perusahaan telah memiliki kebijakan strategis.  Kebijakan tersebut adalah :

  1. Melarang pembakaran dalam rangka kegiatan operasional terutama dalam persiapan lahan dan menerapkan metode PLTB (Persiapan Lahan Tanpa Bakar).
  2. Melakukan Sosialisasi secara terus menerus dalam upaya peningkatan kesadaran karyawan dalam menghadapi kebakaran lahan dan hutan.
  3. Membentuk team pengendalian kebakaran lahan dan hutan yang terampil dan tangguh dengan melakukan pelatihan secara berkesinambungan.
  4. Membuat SOP dan WI bidang pengendalian kebakaran lahan dan hutan.
  5. Menjalin kerjasama dengan aparat pemerintah dan masyarakat sekitar HTI dalam bidang pengendalian kebakaran lahan dan hutan.
  6. Membentuk organisasi Regu Pemadam Kebakaran dan Team Pemantau Hotspot.

Selain dari kebijakan tersebut, untuk mencegah dan menanggulangi kebakaran hutan disekitar wilayah konsesinya, perusahaan merancang sebuah sistem terintegrasi yang disebut dengan Integreted Fire Management (IFM). Terdapat 4 pilar utama dalam IFM ini, yaitu:

  1. Pencegahan
  • Program DMPA : Landasan utamanya adalah dengan memanfaatkan bidang agroforestry, masyarakat diarahkan dan dibina untuk berdaya dan sejahtera secara sosial-ekonomi dengan memanfaatkan sumber daya (alam dan manusia) yang sesuai dengan potensi dan karakteristik lokal.
  • Tata Kelola Air : Untuk mengurangi resiko kebakaran dilahan gambut, perusahaan memperbaiki tata kelola lahan gambut dengan cara menaikkan ketinggian air dikanal perimeter konsesi.
  • Insentif untuk Masyarakat Peduli Api (MPA) : Mengikut sertakan masyarakat sekitar konsesi HTI untuk melakukan patroli pencegahan kebakaran, selain sejumlah uang, masyarakat juga diberikan insentif berupa peralatan dan pelatihan dalam pemadaman kebakaran.

 

  1. Persiapan
  • Incident Command System (ICS) : Merupakan perangkat/sistem yang mengatur garis komando, perencanaan, operasi, logistik, dan administrasi dalam sebuah situasi darurat.
  • Situation Room Center (SRC) : Ruang kontrol yang melakukan deteksi dini kebakaran secara real time 24 jam non-stop diwilayah konsesi melalui pengolahan data dari citra satelit yang diverifikasi oleh petugas lapangan.
  • Pemetaan Jalur Patroli : Intensitas patroli disesuaikan dengan informasi tentang potensi kebakaran dari situation room dan panduan FDRS dari gabungan data cuaca, angin, dan kelembaban udara.
  • Kesiagaan RPK : Seluruh personel RPK yang telah tersertifikasi Manggala Agni senantiasa bersiaga disetiap pos pantau. Tim RPK tersebut dilengkapi dengan sarana prasarana yang memadai sesuai dengan peraturan terkait  seperti pos jaga, pos pantau, kendaraan patroli, kendaraan pemadaman, menara cctv, menara api, peralatan pemadam, dll.

 

  1. Deteksi Dini
  • Deteksi Wilayah Kebakaran : Deteksi dilakukan oleh setiap resort/distrik diwilayah konsesi berdasarkan informasi yang didistribusikan oleh Situation Room. Hal ini untuk memastikan apakah hotspot tersebut adalah titi api atau bukan, maka petugas mengecek langsung kelapangan.
  • Citra Thermal : Alat ini digunakan untuk mendeteksi titik titik api dilahan gambut. Bekerja dengan menangkap perbedaan suhu ekstrim dipermukan tanah. Begitu panas terdeteksi, maka sistem akan mengirimkan data real yang kemudian disatukan dalam petak konsesi sehingga lokasi titik apai akan langsung terlihat disistem.
  • Pemantauan dari Ketinggian : Dilakukan melalui Menara Api dan CCTV dengan ketinggian kurang lebih 30 meter.

 

  1. Respon Cepat
  • Komando dan Kontrol : Manajemen terpadu dalam menghadapi situasi darurat, dari mulai pihak Situation Room, Logistik peralatan, petugas RPK dilapangan, semua bergerak mengikuti garis komando yang telah ditetapkan.
  • RPK : Tim RPK secara intensif akan melakukan upaya pemadaman secara bergantian.

 

Kelola Sosial

Rencana Pemberdayaan Masyarakat

Bahwa lahan areal PT Finnantara Intiga seluruhnya dikuasai oleh masyarakat, baik secara adat/umum (hak ulayat), kelompok maupun individu. Oleh karena itu dalam pengelolaan lahan PT. Finnantara Intiga menerapkan strategi/kebijakan dengan melakukan kerjasama melalui kesepakatan pengelolaan lahan.  Dengan dasar tersebut maka timbul suatu model pengembangan HTI terpadu, dimana peran serta masyarakat setempat dibangun melalui suatu kerjasama yang baik (proporsional) dan saling mendukung, dalam upaya memenuhi harapan terwujudnya Hutan Tanaman Lestari (sustainable) dan Masyarakat Mandiri (Sejahtera).

Program pemberdayaan masyarakat yang dilaksanakan oleh PT. FI  terbagi dalam 3 kegiatan pokok dan 2 kegiatan penunjang seperti disampaikan sebagai berikut :

Kegiatan Pokok

Dukungan Sosial, ditujukan untuk membantu masyarakat untuk mempertahankan dan memelihara adat istiadat dan sosial budaya setempat.

Proyek Fisik, merupakan kegiatan untuk  membantu masyarakat dalam menyediakan atau membangun infrastruktur dan fasilitas umum yang diperlukan untuk meningkatkan aktifitas sosial ekonomi masyarakat.

Usaha Produktif, adalah kegiatan pemberdayaan dalam rangka meningkatkan perekonomian masyarakat.

 

Kegiatan Penunjang

Beberapa kegitan  program-program pemberdayaan masyarakat yang telah dilaksanakan di  PT FI  dalam  program Community Development seperti terlihat dalam tabel di bawah.

Contoh Realisasi Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat Sekitar PT. FI

No

Jenis Kegiatan

Contoh Realisasi

 

KEGIATAN POKOK

1

Dukungan Sosial

·       Bantuan untuk upacara keagamaan(Maulid Nabi, Isra Mi’raj, Natal, dll.),

·       Bantuan untuk upacara adat, pesta gawai, dll.

·       Perayaan hari besar nasional (Hari Kemerdekaan, Hari Kartini, dll.),

·       Bantuan pendidikan (honor guru, beasiswa),

·       Pengobatan massal,

·       Bantuan pemilihan Kepala Desa

·       Bantuan BBM,

·       dll.

2

Pembangunan fisik

Bantuan biaya pembangunan sarana prasarana umum seperti: tangki air, gedung sekolah, balai desa, jalan, jembatan, sarana ibadah (mesjid, gereja), dan kegiatan olahraga.

3

Usaha produktif

Bantuan untuk budidaya pertanian.